RSS

Korupsi KRL Hibah (Salah satu White Collar Crime)

19 Jan

(Gambar: indotetsudoufan.blogspot.com)

 

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali melakukan penahanan atas mantan pejabat Kementrian. 31 maret 2011, lembaga antikorupsi tersebut menahan mantan Dirjen Perkeretaapian Kemenhub Soemino Eko Saputro. Tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan jasa angkutan Kereta Rel Listrik (KRL) hibah dari pemerintah Jepang tersebut ditahan di Rutan Cipinang.

“KPK melakukan penahanan atas yang bersangkutan dalam dugaan penyalahgunanan pengangkutan KRL hibah Jepang pada 2006-2007,” ujar Juru Bicara KPK Johan Budi SP, di gedung KPK, Kamis (31/3).

Dalam rangka pengembangan penyidikan, yang bersangkutan akan ditahan selama 20 hari terhitung sejak kemarin, di Rutan Cipinang. Johan menguraikan, tersangka diduga telah melakukan penggelembungan harga (mark up) dalam biaya transportasi pengiriman kereta tersebut, hingga mencapai 9 juta Yen.

Atas perbuatannya yang merugikan negara sebesar Rp 20 miliar dia dijerat pasal 2 ayat (1) atau pasal 3 UU nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan Tipikor, sebagaimana diubah dengan UU nomor 20 tahun 2001 jo pasal 55 ayat 1 KUHP.

Soemino menjalani pemeriksaan sekitar tujuh jam, sebelum akhirnya ditahan. Namun, usai menjalani pemeriksaan, dia menolak berkomentar. Tersangka yang kala itu mengenakan baju safari coklat tersebut, langsung memasuki mobil tahanan yang telah menunggunya. .

Seperti diketahui, kasus tersebut bermula ketika Sumitomo, perusahaan asal Jepang menghibahkan 60 unit KRL bekas ke pemerintah Indonesia pada tahun 2006-2007. KRL bekas tersebut terdiri atas 30 unit KRL tipe 5000 milik Tokyo Metro dan 30 unit KRL bekas tipe 1000 dari Toyo Rapid Railway. Dalam perjanjian hibah antara pemerintah Indonesia, pengiriman KRL tersebut dikirim dengan biaya yang dibebankan kepada penerima hibah oleh Sumitomo.

Nilai proyek tersebut mencapai Rp 48 miliar. Namun, terkait pengiriman KRL tersebut, diduga telah terjadi penggelembungan harga hingga mencapai 9 juta Yen. Akibat mark up tersebut, negara mengalami kerugian sekitar Rp 11 miliar. Saat itu Menteri Perhubungan dijabat oleh Hatta Radjasa.

Perkara korupsi proses pengangkutan 60 unit KRL hibah eks Jepang juga menyeret keluarga artis. Kakak penyanyi Vina Panduwinata, Maya Panduwinata, mendapat keuntungan proyek hingga Rp 2,01 miliar.

“Telah memperkaya Maya Panduwinata sejumlah Rp 2,018 miliar,” ujar penuntut umum, Agus Salim.

Agus mengatakan itu saat membacakan dakwaannya untuk Mantan Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, Soemino Eko Saputro, di Pengadilan Tipikor, Jl HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Senin (22/8/2011).

Proyek ini diambil dari anggaran dalam DIP/DIPA APBN Tahun 2006-2007 Rp 48,7 miliar. Kerugian negara yang ditimbulkan dalam perkara ini adalah Rp 20,585 miliar.

Maya adalah pihak dari KOG Indonesia, perwakilan KOG Jepang yang dipimpin oleh Masahiro Kosaka. KOG Jepang disubkontrak oleh Sumitomo Corporation, perusahaan yang ditunjuk langsung untuk proses pengadaan KRL hibah ini. Pasalnya, Sumitomo tak memiliki kemampuan untuk melakukan pekerjaan jasa angkutan.

Setelah proses pengerjaan selesai, Sumitomo menyelesaikan pembayaran Rp 18,68 miliar kepada KOG Jepang yang kemudian diteruskan kepada PT ECL sejumlah JPY 132.177.399 dan Maya sebesar Rp 3,681 miliar.

Dari uang yang diterima, Maya memberi kepada Veronica Haridjanti Rp 108,845 juta. Uang ini sebagai fee karena Veronica memberikan informasi adanya proyek pengangkutan KRL. Maya juga membagi uang itu kepada Awing Asmawi sebesar Rp 1,554 miliar.

Kronologi :

asus ini bermula pada tahun 2004 di mana pemerintah Indonesia melalui PT KAI melakukan pembelian 16 unit pada Itocu Corporation Japan (Kontrak No. HK.213/VIII/3/KA.2004) dengan harga JP Yen 8 Juta per unit untuk seri 103 termasuk biaya angkut dan asuransi. Kemudian pada tahun 2005, PT KAI melakukan lagi pembelian 16 unit KRL seri 8000 pada Tokyu Corporation Japan dengan kontrak No 72/HK/TEK/2005 di mana harganya termasuk biaya angkut dan asuransi jatuh dengan harga JP Yen 8 Juta per unitnya.

Yang mencolok adalah tanggal 30 November 2006 ditandatangani kontrak No. 11/KONTR/PSP/XI/2006 antara Satuan Kerja (satker d/h Pimpro) Pengembangan Sarana Perkeretaapian dengan Sumito Corporation Jepang. Judul kontrak tersebut adalah; “Pengangkutan termasuk Asuransi 60 (enam puluh) unit KRL Hibah eks Jepang.” Harga per unit untuk barang HIBAH tersebut sebesar; jp yen 9,9 juta per unit untuk biaya angkut dan Asuransi. Jadi, Menteri Perhubungan Hatta Radjasa saat itu membayar Transportasi dan Asuransi untuk KRL Hibah eks Jepang lebih mahal JP Yen 1,9 Juta Yen per unit dibandingkan dengan harga yang dibeli oleh PT KAI.

Perkiraan kerugian yang menimpa pemerintah dengan kontrak Departemen Perhubungan tersebut adalah:

1. Dengan perbandingan kontrak PT KAI per unit = Yen 8 Juta CIF Jakarta sehingga biaya maksimum pengangkutan adalah selisih dari CIF-FOB = 5% x Yen 8 Juta = Yen 400.000/unit. Sehingga kerugian yang ditimbulkan adalah = (Yen 9.900.000 dikurangi Yen 400.000) X 60 unit = Yen 570 Juta atau setara dengan Rp. 44,46 Miliyar (Kurs Yen 1 = Rp. 78).

2. Kerugian-kerugian lain yang ditimbulkan oleh Korupsi Dana Hibah ini.

Tanggapan penulis :

Melihat dari kasus korupsi KRL hibah dapat dilihat bahwa pemerintah belum berani membasmi tuntas kasus ini. Bahkan kasus ini semakin lama semakin tidak jelas dan terabaikan karena adanya kasus korupsi lain. Kerugian negara cukuplah besar dalam korupsi ini maka menurut saya siapapun yang terbukti bersalah harus dihukum tegas tanpa pandang bulu.

pengadaan hibah kereta api atas perintah mentri perhubungan ( Hatta Radjasa ) dan hingga saat ini Hatta Radjasa masih belum ditetapkan sebagai tersangka dalam pengadaan Hibah Kereta Api tersebut yang telah merugikan negara cukup besar itu. KPK harus berani lagi dalam menindak pelanggaran hukum yang sudah semestinya di tangkap bilamana terbukti melakukan penggelapan dana serta korupsi terhadap keuangan negara, siapapun tanpa pandang bulu. Kita Tinggu Kinerja KPK dalam memberantas Kasus Korupsi di badan pemerintahan negeri ini.

Sumber :

http://hukum.kompasiana.com/2011/05/24/krl-hibah-366693.html

http://www.fakta.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=139%3Akasus-korupsi-krl-hibah&Itemid=121

http://news.detik.com/read/2011/08/22/171417/1708631/10/kakak-vina-panduwinata-tersandung-korupsi-krl-dapat-rp-2-m

 
Leave a comment

Posted by on January 19, 2013 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: